Menghargai diri sendiri ... (Bagian Pertama: Pendahuluan)

MULAI DARI MANA


Setiap orang yang terbiasa menghargai dirinya sendiri 
akan lebih mudah menghargai orang lain. 

Menghargai diri sendiri tidak sama dengan mementingkan diri sendiri yang kerap disebut egois. Menghargai diri sendiri adalah perwujudan cinta paling mendasar yang secara naluriah dimiliki tiap makhluk hidup. Ini disebut mendasar karena tiap orang hidup dilengkapi dengan keragaman kesenangan, keinginan, harapan, ketakutan, dan kebisaan-kebisaan. Tiap orang adalah khas, unik, dan mengandung potensi yang sangat spesial. Menyadari dengan sungguh-sungguh, menjadi bangga, dan bersyukur atas segala macam hal dalam diri itulah yang memberi kemampuan manusia untuk bisa mencintai dirinya dan menghargainya dengan tulus.

Mencintai diri sendiri dan selalu menghargainya sangatlah berbeda dengan tindakan naluriah untuk berjuang bertahan hidup (survival). Tentu saja semua orang dilengkapi juga dengan naluri pertahanan agar hidupnya bisa berlangsung sesuai dengan keinginan dan kebahagaiannya. Tak perlu hal ini dipungkiri, namun justru harus selalu diakui dinamikanya sebagai sebuah wujud potensi pelengkap yaitu kemampuan untuk berubah. Kesadaran awal bahwa diri memiliki mekanisme pertahanan adalah titik pijak untuk menyadari proses perubahan yang terjadi dalam diri sendiri. Menghargai diri adalah mempraktekkan cinta dalam bentuk-bentuk alamiah yang bisa dilakukan oleh manusia memperlihatkan kemanusiaannya.

Dengan begitu, menghargai diri sendiri mengandung empat unsur (atau lebih) langkah awal ini:

1. Mengenal dengan baik segala potensi diri. 

Jangan pernah anggap biasa-biasa saja diri kita. Karena yang paling luar biasa, dan yang paling bisa kita andalkan dalam keadaan apapun adalah diri kita ini. Mengenali tiap hal yang ada dalam diri kita dengan kesadaran penuh membutuhkan pembiasaan dan prktek yang berbeda-beda tiap saat dan dalam situasi tertentu. Hanya diri kitalah sang empunya potensi itu, dengan segala kelebihan dan keistimewaannya. Dan yang paling obyektif serta paling dekat untuk dapat melihat segala potensi itu tentu juga diri kita sendiri.


2. Berbahagia dan mensyukuri segala hal yang ada 
pada diri dan lingkungannya. 


Mensyukuri apa yang ada dalam diri kita adalah kunci kebahagiaan. Bersyukur merupakan kata kerja yang tidak hanya berupa perasaan yang menghasilkan doa dan nyanyi puji bagi diri sendiri. Bersyukur perlu tindakan nyata yang bisa meyakinkan diri kita bahwa segala potensi yang kita miliki itu tetap selalu berfungsi dengan sebaik-baiknya. Hanya diri kita sendirilah yang tahu cara terbaiknya bagaimana memfungsikan potensi itu. Jadi bersyukur adalah tindakan internal yang diwujudkan pertama-tama untuk terus memastikan bahwa apa yang sudah ada pada diri kita itu tidak sia-sia adanya.




3. Terhubung (bukan terikat) tulus 
dan otentik dengan orang lain. 

Setiap orang pasti terhubung dengan orang lain dengan intensitas/kedekatan yang beragam. Ada yang terhubung secara biologis garis keturunan, ada yang terhubung secara normatif, sosial, politis, ekonomis dan sebagainya. Keterhubungan itu adalah medan paling nyata bagaimana seseorang yang telah menyadari potensi dirinya dan mempraktekkan syukurnya dapat mengelolanya bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Keterhubungan itu mudah tergoda menjadi keterikatan sebagaimana godaan naluriah untuk bertahan hidup. Namun dengan terus membuat pola-pola keterhubungan dan memperbaharuainya, maka keterhubungan itu menjembatani, menyatukan, menghapus jarak dengan tanpa harus mengorbankan jati diri dan orang lain.


4. Merayakan hidup (kerja, berorganisasi, memperjuangkan sesuatu, dll). 

Orang yang menghargai dirinya akan melihat apa yang dilakukannya adalah kesempatan paling berharga untuk merayakan apa yang menjadi potensi diri terbaiknya. Berorganisasi menjadi ruang untuk mengekspresikan diri otentik untuk dibagikan kepada yang lain. Bekerja juga menjadi kesempatan untuk berbahagia dengan dirinya sehingga menghasilkan karya yang menyenangkan dan membanggakan. Demikian juga ketika memperjuangkan sesuatu, dorongan utama yang diandalkannya adalah kegairahannya untuk hidup yang bernilai. Tahap merayakan hidup inilah yang memperlihatkan seberapa kuat dan serius kita menghargai diri kita, mensyukurinya, dan menghubungkannya dengan orang lain.


[Bagian Pertama dari rangkaian tulisan tentang: Menghargai diri sendiri untuk Menghargai orang lain.]

Komentar

Postingan Populer