Belajar dari seorang arsitek

MALAM MINGGUAN

Komunitas arsitek, mahasiswa, pegawai sipil, anggota REI, komikus, mahasiswa hukum, seniman, budayawan, kawan-kawan Marxist dan pecinta Tan Malaka, semua orang pecinta Indonesia sedang berbincang bersama. Kali ini mendengar sharing seorang kawan Ilman Harun (https://www.facebook.com/ilman.harun) yang sedang belajar di Politecnico di Milano - Master of Science · Sustainable and Multi-scale Architecture · Master's Degree · Milan, Italy. Dia mempresentasikan proposal yang pernah menjadi juara harapan dalam kompetisi arsitek Internasional, dan bersama teman-temannya dia membuat jembatan.

Ya, jembatan yang digunakan untuk menyeberang sungai itu lho. Sederhana bukan? Tapi tunggu dulu. Ada konsep idiologis, ide humanis, dan tawaran estetis yang luar biasa menarik. Aji Prasetyo yang woro-woro acara ini mengintrodusirnya demikian: "Di sebuah perbatasan, tempat bertemunya dua budaya dan ideologi yang berbeda. Potensi konflik pastilah tinggi. Namun dapat diredam dengan pendekatan arsitektur. Kok bisa?" Oleh karena itulah diskusi berkala Kedai Kopi ini diberi judul: "Beyond no Border Architectur?" Sebuah diskusi yang pantas dihadiri oleh para pemeharti lintas ilmu dan profesi terhadap gejala sosial yang paradoksal, yaitu tentang border.

Idiologi border/less hingga hari ini masih kontroversial. Tantangan perdamaian dalam perjumpaan melampaui border dan sensitifitas "nation" yang bahkan sering semakin dikerdilkan menjadi gejala regionalisme masih belum tuntas juga diatasi oleh negara maupun kumpulan negara manapun di dunia. makanya tidak perlu heran kalau hal itu sempat jadi dagangan kampanye presiden yang baru lewat. Orang seolah dapat dikendalikan rasionalitas dan keberpihakan hatinya hanya lewat isu border/less tersebut. Demikianlah ideologi dibalik hasil proposal arsitektural ini sangatlah progresif; berani membongkar paradigma (yang dianggap) sudah tak tergoyah lagi, paling sensitif untuk dibicarakan, dan cenderung anti nasionalisme picik. 

Paling jauh usaha borderless itu terjadi di bidang ekonomi, nah begitulah seorang teman mencoba mempertanyakan aspek ketidakadilan kecenderungan mengguritanya kapitalisme yang semena-mena bisa merasuki batas apa saja. Keanehan ideologis diperlihatkan disini. Membuka border dibidang ekonomi, namun tidak di bidang pendidikan, sosial-budaya, dan apalagi keutuhan hidup manusianya.

Dalam konteks pertemuan lintas negara yang dibatasi hanya oleh sungai, jembatan menjadi sarana paling relevan dan penting untuk memfasilitasi segala kebutuhan perjumpaannya. Demikianlah konsep politis borderless menjadi sangat penting. Namun, sejauh yang saya tahu, justru disinilah indahnya belajar bersama kawan arsitek. Hanya dengan sebuah usaha menampilkan fungsi holistik sebuah jembatan, mereka bisa membongkar konsep-konsep besar, bahkan mempertanyakan tentang eksistensi negara. Begitu setidaknya yang disampaikan moderator yang dengan sangat bersahabat merangsang jalannya diskusi menjadi sangat bermakna.

Ilman Harun selanjutnya menjelaskan bahwa konsep jembatan dirancang dengan menggunakan perahu-perahu bekas tambang, dengan desain knock-down yang dengan mudah tersambung dari satu perahu ke perahu lain. Tiga lapisan perahu dimanfaatkan sehingga jembatan menjadi multi guna. lapisan paling atas nampak seperti jembatan biasa yang berkontur indah, namun pengguna bisa masuk dalam badan perahu dalam menggunakan jembatan itu. Ruang-ruang jalan-jembatan dalam perahu dapat dimanfaatkan untuk display keragaman hasil seni-budaya antar negara, meeting point lintas negara, bahkan ruang pendidikan. 

Maaf fotonya agak buram, tapi cukup menggambarkan sebuah diskusi yang dasyat
Jembatan itu juga berfungsi sebagai pemberi jarak refleksi pada para penggunanya. Karena ketika berada di atas jembatan orang bisa melihat dari jarak tertentu kondisi desa/kota mereka dan juga juga desa/kota negara lain. Karena jembatan ini mengapung, maka bisa dipindahkan dari satu titik perjumpaan ke titik yang lain yang memungkinkannya menjadi event wisata namun dengan fungsional mempromosikan ide borderless.

TIGA PELAJARAN PENTING:
Dari presentasi yang sangat menggugah panorama berpikir itu terdapat tiga hal penting yang perlu direfleksikan dalam relevansinya bagi konteks Indonesia. Secara teknis, model jembatan seperti itu pasti sangat bermanfaat bagi daerah-daerah di Indonesia yang memiliki sungai-sungai besar dan terutama yang masyarakatnya tersekat dalam komunitas-komunitas berbeda karena terpisah oleh sungai. Namun tentang konsep arsitektur yang border/less, tentang arsitektur yang memberi ruang agar tiap kelompok masyarakat yang berbeda dapat terhubung dan berjumpa, dan tentang arsitek yang memberi jarak bagi orang untuk menikmati panorama dan memandang keindahan desa/kota nya tentu adalah hal-hal yang dijumpai tiap orang sehari-hari di lingkungannya masing-masing.

BORDERLESS VERSUS GATED COMMUNITY

Menurut Ilman, tidak hanya di kota-kota di Indonesia namun hampir di kebanyakan kota-kota negara bekas jajahan yang berada dalam status miskin dan sedang berkembang, kecenderungan yang muncul justru dengan tumbuh suburnya arsitek yang mengakomodasi trend gated-community; perumahan satu pintu, perumahan elit, perumahan eksklusif, dan lain sebagainya yang memisahkan penghuninya dengan masyarakat setempat. Bahkan seringkali memutus jalur keterhubungan satu desa dengan desa yang lain. Yang sebelumnya tetangga RT/RW/Dukuh terpecah-terpisah oleh adanya gated-community itu.

Seorang praktisi yang akrab bekerja dan berhubungan dengan proses pengembangan kawasan dan perumahan menyatakan bahwa selain kebijakan penguasa yang memang tidak pernah mampu melihat konsep dasar kebutuhan kemanusiaan, juga kecenderungan pasar-konsumen arsitektur yang menempatkan arsitek sekedar sebagai tukang gambar kebutuhan dan keinginan mereka. Ada tantangan besar terhadap konsep arsitektur yang humanis apalagi yang naturalis berpihak pada keramahan alam. Idealisme arsitektur humanis-sosialis terang-terangan berhadapan semangat kapitalis-egoistik dalam praktek keseharian hidup para arsitek. 

Dalam sejarahnya terbukti bahwa dengan cara demikian itu juga kearifan arsitektural budaya asli Indonesia kehilangan popularitasnya. Padahal harus diakui bahwa kearifan arsitektural bangunan berbasis komunitas agraris di Indonesia memenuhi hampir seluruh kaidah-kaidah dasar teori-teori arsitek humanis-sosialis. Bahkan di Nias dan beberapa daerah di pantai barat Sumatera yang telah mempertimbangan kerentanan bencana gempa bumi.  Disadari oleh teman mahasiswa arsitek bahwa ini adalah antangan-tantangan besar bukan hanya bagi para arsitek nemun juga seluruh masyarakat untuk dengan serius menggunakan semua pertimbangan akal sehatnya dalam membangun sesuatu.

JARAK REFLEKTIF
Fungsi penting lainnya dari model jembatan yang dikonsep Ilman adalah memberi ruang terbuka yang berjarak dari keberadaan komunitas. Ruang terbuka berjarak seperti ini penting bagi komunitas untuk membangun kesadaran tentang identitas dirinya dan penghargaannya terhadap keberadaan dan identitas yang berbeda dari orang lain. Jika ruang terbuka berjarak ini berada diantara dua negara yang berbeda, diantara dua budaya yang berbeda, dua situasi ekonomi-politik yang berbeda, maka banyak refleksi personal yang bisa dihasilkannya.

Panorama bukan sekedar sebuah aset wisata. Ruang-ruang dimana orang bisa menikmati panorama perlu dipersiapkan sedemikian rupa sehingga orang bisa menghargai dan menjaganya sekalipun ada kebutuhan bangunan yang baru. Realitas yang menunjukkan kecenderungan bahwa bangunan lebih utama daripada kesadaran ruang terbuka merupakan satu hal penting yang nampaknya dibutuhkan oleh banyak daerah yang sedang galak-galaknya mendirikan bangunan baru seperti Kota Malang dan terutama Batu dengan konsep wisatanya.

BRIDGING COMMUNITY

Pelajaran penting ketiga yang ditekankan dari konsep bangunan jembatan adalah tentang fungsi. Menghubungkan manusia yang berbeda tidak hanya menghubungkan lalu lintas kebutuhan ekonomi dan sosial. Disana ada kebutuhan perjumpaan dan keterhubungan manusiawi. Sebuah bangunan seperti jembatan bisa menjadi sebuah simbolisasi penting terjadinya komunikasi yang efektif lintas budaya.

Tantangan besar bagi setiap orang bahwa untuk membangun sebuah konsep tertentu, keterhubungan manusiawi perlu menjadi pertimbangan penting. Tantangan bagi arsitek agar terus berani idealis bahwa merancang sebuah bangunan adalah merancang sebuah alat yang bisa digunakan oleh manusia semakin memanusiakan dirinya.

Terimakasih kawan Ilman dan semua yang telah hadir di Kedai Kopi Tjangkir 13, juga terhadap beberapa orang yang berinisiatif menyediakan kacang goreng lokal dan wafer. Besok akan ada aksi bersama mengenang satu tahun meninggalnya seorang mahasiswa ketika mengikuti OSPEK. Maka kami mengumpulkan infaq dan akan bersuara dan bersaksi di jalanan agar tidak ada lagi mahasiswa disiksa dan mati karena ingin menjadi mahasiswa.






Komentar

Postingan Populer