SENYAP: Sebuah Bengkel Logika

Menyodorkan sebuah dokumentasi dengan cara tutur yang bernuansa keseharian dengan menampilkan dinamika ekspresi spontan yang sarat dengan tanda ekspresi naluriah memang dengan mudah akan mengaduk-aduk logika.

Sekalipun jelas bahwa yang menjadi fokus pembahasan adalah penggalan kecil dari kebesaran realitas yang selalu multi tafsir, tak bisa dipungkiri logika awal yang tersinggung adalah yang berhubungan dengan kemanusiaan. Karena ini dokumentasi kisah hidup manusia yang tersisa dalam ingatan, terhubung dalam romantika kekejaman, keterpaksaan, ketidakmampuan menemukan alternatif, kesengsaraan, ketakutan, dan keterhinaan,  carut-marut bergelindang dengan perkembangan kesadaran baru indogtrinasi politik, agama, dan budaya yang berkembang menjadi pondasi bangunan sebuah sistem pengenalan pada realitas, maka begitulah memang rasanya. Kemanusiaan kita tersinggung karena langsung kita berkaca.

Maka wajar jika muncul pemberontakan kecil-kecil terjadi dalam hati kita. Mulai dari yang merasa terhina karena sedemikian rupa segera mengingatkan pada kisah hidup generasi sebelum mereka yang selama ini tak terdengar, hingga yang merasa takut jika dosa-dosa mereka terkuak dan menjadi alasan terjadinya lingkaran setan balas dendam dan kebencian. Mulai dari yang sangat berkepentingan untuk menjaga "stabilitas kondusif masyarakat" hingga yang karir akademisnya dipertaruhkan karena terlanjur menyanjung mono-tafsir produk idiologis sebuah kekuasaan. Dari yang merasa iman kepercayaan agamanya terganggu karena munculnya kebenaran baru yang perlu dipertimbangkan ulang dalam menyusun bangunan memori keyakinanya, hingga yang justru semakin dikuatkan kesadaran beragamanya karena menyadari pentingnya membaca dengan perspektif yang berbeda.

Kemanusiaan kita dapat diukur mulai dengan yang sangat sederhana, yaitu dari bagaimana perlakuan kita kepada orang-orang di sekitar kita. Logika kemanusiaan dasar itu lantas tak terbantah mudah sekali hancur karena apa yang ada dalam pikiran kita tentang orang lain. Dalam Film ini nampak diulang-ulang bagaimana bangunan pikiran seseorang bisa melekat begitu kuat hingga akhir hayatnya hanya melalui sepenggal provokasi kebencian pada kemanusiaan. Selebihnya, karena manusia memang dianugerahi kemampuan berimaginasi dan improvisasi, penggalan provokasi itu dengan cara yang unik menjadi seluruh kesadaran diri dan bahkan mengontrol seluruh tubuh.

Dengan sepenggal provokasi kebencian, manusia yang semula adalah sesama, para tetangga, bahkan sanak saudara, bisa dengan serta merta mendadak nampak seperti binatang busuk yang perlu segera disingkirkan dengan kekejian tak tertara. Dan ironisnya tindakan itu dibanggakan sebagai pengingat dan peyakin diri sebagai manusia waras, kalau perlu dengan meminum darah korbannya. Logika kemanusiaan sepanjang masa yang rapuh, mudah hancur, gampang aus terkikis oleh pikiran manusia sendiri. Logika kemanusiaan yang tidak hanya absurd tetapi juga sangat lemah karena mudah terkendali oleh bombastis slogan "keselamatan negara dan agama".

Keberatan dan ketidaksetujuan baik dari pihak aparat keamanan maupun 'pemimpin keagamaan' tertentu (yang ternyata belum melihat film dokumenter ini, yang pasti perlu dipertanyakan keluasan referensinya mengenai persoalan ini) yang telah memburamkan kembali semangat Kota Malang (dan mungkin kota-kota lain) sebagai pusat peradaban berpikir dan bertindak manusiawi, semakin memperlihatkan bahwa logika kemanusiaan dalam bumi Indonesia yang dalam hal ini bersemboyan "Kemanusiaan yang adil dan beradab", sebuah logika yang paling mendasar ternyata hanyalah utopia yang nampaknya cenderung memberi pendahuluan pada dystopia atau kakotopia yang akhir-akhir ini semakin menjadi trend cinema Hollywood menafsirkan tersungkurnya kemanusiaan akibat sistem kemanusiaan yang dibuat oleh manusia itu sendiri (entah dengan semangat agama, sistem ideologi, sistem ekonomi, atau dengan kesadaran pada lingkungan alam dan semesta maha luasnya).

Maka kehadiran Senyap (The Look of Silence) dengan hiruk pikuk multi tafsir dan cara bersikap yang menyertainya kiranya sesuai dengan harapan Film ini dibuat, yaitu untuk membongkar kesadaran tiap orang tentang bagaimana kita membangun logika kemanusiaan kita. Hadirnya Film ini dan bagaimana semua pihak bereaksi menjadi sebuah 'bengkel logika', ruang untuk memeriksa apakah semua 'perlengkapan' kemanusiaan kita sebagai manusia masih berfungsi dengan baik atau tidak.






Komentar

Postingan Populer