Binatang mati

Sore hari seminggu yang lalu

Kami berempat menikmati warung paling terkenal di jalur tengah Surabaya-malang, sebuah warung Ayam Bakar. Sebagaimana warung lain yang menyediakan menu berbahan dasar binatang, kami memilih menu berdasarkan selera masing-masing. Ada Ayam, Bebek, dan beragam Ikan air tawar terdaftar dalam menu tentu dengan metode memasak yang berbeda.

Salah seorang dari kami mendesah "kok kebanyakan menu yang ditawarkan adalah binatang mati?"

Sebuah ungkapan yang sekilas nampak seperti dikatakan oleh orang yang tidak bisa dengan benar menterjemahkan istilah yang sesuai untuk sesuatu yang dihidangkan untuk dimasak dan dimakan, namun benar, sebenar-benarnya kami semua menyadari memang menu yang disediakan berbahan dasar binatang mati. Bahkan sambel yang dicantumkan juga menyinggung soal binatang kecil-kecil yang hidup di laut dan sekarang mati untuk dijadikan penyedap rasa: ikan teri. Kecil, asin, baunya menyengat, gurih dimakan, dan kebenaran selnjutnya terungkat ... ia adalah binatang mati.

"Binatang mati apakah yang hendak kamu pesan untuk dimakan?" Sebuah pertanyaan lugas, benar pengartiannya, lengkap tata-bahasanya, dan informatif. Namun pertanyaan dengan cara seperti ini benar-benar merubah pola berpikir kami semua.

Selama ini, dengan enteng orang menyebutkan menu makan siang berbahan dasar binatang mati dengan pengistilahan yang lebih fulgar.
"Makan apa siang ini?"
"Soup kaki Kambing" atau "Iga Sapi bumbu kecap", "Ayam bakar super pedas (dada)"
Terang-terangan disebutkan satu persatu identitas dan jenis Binatang Mati yang hendak disantap, dijadikan sumber energi dan kelangsungan hidup manusia.

Aku pernah berjumpa dengan seseorang yang sangat menyukai menu Iga Babi Bakar. Memang sangat lezat karena dimasak dengan sedikit dituangi cairan yang mengandung alkohol. Sebelum makan, ada teman lain bercerita bagaimana cara menyembelih dan mencincang seekor binatang babi menjadi potongan-potongan daging yang siap dimasak. Seketika, kawan pemesan Iga Babi Bakar itu kehilagan selera dan tidak lagi bisa makan menu yang sudah disediakan berdasarkan pesanannya.

Aku pernah mendengar orang berusaha memberikan dasar etis dan filosophis tentang makan Bintang Mati. menurut dia "batasnya sangat tipis, hanya terletak pada pilihan kita untuk tega atau tidak tega. Selama kita membangun pemahaman berdasarkan ketidaktegaan, maka seluruh proses "perubahan" dari seekor Binatang makhluk bernyawa-berotak-berperasaan-berkelompok menjadi seonggok daging lezat yang dapat disetarakan dengan bumbu-bumbu, terigu, garam, dan gula, akan menjadi rangkaian persoalan yang menggugah hati nurani kita yang juga adalah makhluk bernyawa-berotak-berperasaan-berkelompok." Dia menambahkan: "para pemakan Binatang Mati, para tradisionalis, peserta dalam apa yang diteorikan sebagai Rantai Makanan, hayalah orang-orang yang mengambil pilihan untuk mengabaikan, melupakan, memendam dalam-dalam segala bentuk proses "perubahan" tersebut."

Ada tradisi yang mengatakan bahwa nyawa dan jiwa binatang terletak di dalam cairan darahnya, maka diharamkan memakan darah, apalagi menggunakannya sebagai campuran dari bumbu penyedap. Tapi tradisi lain berkata bahwa nyawa dan jiwa itu sesuatu yang rohani tak nampak, jadi darah hanyalah bagian dari binatang yang sama seperti bagian lainnya. Juga ada tradisi yang mengatakan bahwa nyawa terletak pada keseluruhan tubuh. Ada beragam tradisi bisa digunakan sebagai legitimasi maupun sarana memikirkan ulang untuk melanjutkan tradisi memakan Binatang Mati.

Supaya cepat dan tidak terlalu lama mendiskusikan masing-masing memesan Binatang Mati yang mana dan seperti apa proses "perubahan" dilakukan, kami memutuskan untuk memesan Ayam Goreng utuh dengan beberapa sayuran dan tentu saja sambal dan lalapan. Aku berbisik ke seorang teman, "untung saja kita memesan Ayam goreng, kalau kita memesan ikan air tawar yang disajikan utuh dengan kepalanya, kita bisa mendiskusikan topik baru tentang bagaimana kira-kira kalau nyawa dan jiwa binatang terpancar dari matanya?"

Saya bukanlah vegetarian, tapi setiap kali hendak makan dengan menu Binatang Mati, selalu saja ada persoalan dalam hati yang tak kunjung terselesaikan. Saya kira selalu ada persoalan yang sama bagi kawan-kawan vegetarian juga.

Mungkin itulah sebabnya tiap kali makan bersama, orang senang membicarakan politik, sistem ekonomi, isu sosial, pendidikan, keluarga, sepakbola, filsafat, bahkan teologi tentu dengan gosip-gosip yang menyertainya. Karena, ketika kita makan dan kita bicara biologi terutama yang fokus pada anatomi dan proses "perubahan" seperti yang saya sebut di atas, kita, manusia, makhluk bernyawa-berotak-berperasaan-berkelompok ..... akan diperhadapkan pada perasaan dan pikiran yang terus berkecamuk menjadi persoalan yang tak kunjung terdamaikan.

Selamat makan siang saudaraku Chrysta BPA.
"Sedang makan binatang mati apa siang ini?"


Komentar

Postingan Populer